jenis-jenis batik

1. Batik Kraton
Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang untuk digunakan oleh orang “biasa” seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk Udan Liris, dan beberapa motif lainnya.

2. Batik Sudagaran
Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran umumnya terkesan “berani” dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa, maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.

3. Batik Petani
Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.

4. Batik Belanda
Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.

5. Batik Cina/Pecinan

Batik Cina merupakan akulturasi budaya antara perantau dari Cina dengan budaya lokal Indonesia. Ciri khas batik ini warnanya variatif dan cerah, dalam satu kain menampilkan banyak warna. Motifnya banyak mengandung unsur budaya Cina seperti motif burung hong (merak) dan naga. Pola batiknya lebih rumit dan halus.

6. Batik Jawa Hokokai
Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

agama-agama di indonesia

AGAMA DI INDONESIA

Agama adalah satu prinsip kepercayaan kepada Tuhan yang harus di miliki setiap manusia, karena dengan beragama manusia bisa mengenal dirinya dan Tuhannya, dan dengan beragama  manusia bisa tahu hak dan kewajibannya sebagi makhluk yang di ciptakan Tuhan.

Di Indonesia banyak di kenal bermacam-macam kepercayaan atau Agama, akan tetapi Agama yang diakui di Indonesia hanya ada lima, antara lain Islam, Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu.

A.Islam

Islam adalah Agama yang mengimani satu tuhan, Islam secara bahasa (secara lafaz) memiliki beberapa makna. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab): “Sin”, “Lam”, dan “Mim”. Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, memiliki kaitan makna dengan Islam.

Islam secara bahasa adalah : Islamul wajh (menundukkan wajah), Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj).

Secara istilah, Islam berarti wahyu Allah, diin para nabi dan rasul, pedoman hidup manusia, hukum-hukum Allah yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan dia merupakan jalan yang lurus, untuk keselamatan dunia dan akhirat.

1. Nama kitab suci Agama Islam : Al-Qur’an.
2. Nama pembawa Ajarannya : Nabi Muhammad SAW
3. Permulaan : Kurang/lebih 1400 tahun lalu.
4. Nama tempat peribadatan : Masjid.
5. Hari besar keagamaan : Muharram, Asyura, Maulud Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’ an, Idul Fitri,     Idul Adha,    dan Tahun Baru Hijriah.

B. Kristen Protestan dan Katolik

Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasarkan pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama kristen ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokia

Protestan adalah sebuah mazhab dalam agama Kristen. Mazhab atau denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalil nya.

Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik.

Kata Katolik sebenarnya bermakna “universal” atau “keseluruhan” atau “umum” (dari ajektiva Bahasa Yunani (katholikos) yang menggambarkan sifat gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.

1. Nama kitab suci Kristen Protestan dan Katolik : Injil.
2. Nama pembawa Ajaranya : Isa / Yesus Kristus.
3. Permulaan : Kurang/lebih 2.000 tahun lalu.
4. Nama tempat peribadatan : Gereja.
5. Hari besar keagamaan : Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Isa Almasih, dan Pantekosta.

C. Hindu

Agama Hindu Adalah agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini, Hindu dalam Bahasa Sanskerta artinya : Sanatana Dharma “Kebenaran Abadi”, dan Vaidika-Dharma (Pengetahuan Kebenaran). Hindu adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM.

1. Nama kitab suci Hindu : Weda
2. Nama pembawa Ajaran: –
3. Permulaan : Masaprasejarah.
4. Nama tempat peribadatan : Pura.
5. Hari besar keagamaan : Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, Galungan, dan Kuningan.

D.  Buddha

Buddha dalam Bahasa Sansekerta adalah : Mereka yang Sadar, Yang mencapai pencerahan sejati. dari perkataan Sansekerta: “Budh”, untuk mengetahui, Buddha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama, guru agama dan pendiri Agama Buddha dianggap “Buddha bagi waktu ini”. Dalam penggunaan lain, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.

Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai sang hyang Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui Kesadaran, datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan).

1. Nama kitab suci Buddha : Tri Pitaka.
2. Nama pembawa Ajarannya : Sidharta Gautama.
3. Permulaan : Kurang/lebih 2.500 tahun lalu.
4. Nama tempat peribadatan : Vihara.
5. Hari besar keagamaan : Waisak dan Katina.

E.   Kong Hu Cu

Kong Hu Cu atau Konfusius, adalah seorang guru atau orang bijak yang terkenal dan juga filsuf sosial Tiongkok, terkadang sering hanya disebut Kongcu (Hanzi, hanyu pinyin: Kongfuzi?Kongzi) (551 SM – 479 SM). Filsafahnya mementingkan moralitas pribadi dan pemerintahan, dan menjadi populer karena asasnya yang kuat pada sifat-sifat tradisonal Tionghoa. Oleh para pemeluk agama Kong Hu Cu, ia diakui sebagai nabi.

1. Nama Kitab suci Kong Hu Cu : –
2. Nama Pembawa Ajarannya : Kong Hu Cu
3. Permulaan : –
4. Nama Tempat Ibadahnya : Klenteng/Vihara
5. Hari besar Keagamaannya : Sembayang kepada arwah leluhur, Tahun Baru Imlek, Ca Go Mek, Twan Yang, Twan Yang, Hari Tangcik / Sembayang Ronde dll

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

nama-nama suku bangsa di indonesia

SUKU BANGSA
Oleh: AsianBrain.com Content Team

Negara Indonesia ialah negara yang berasal dari berbagai suku bangsa, termasuk Jawa, Sunda, Aceh, Madura, Batak, Minangkabau, Bali, dan Bugis.

Kalau dilihat dari populasi, Suku Jawa adalah suku yang paling besar di Indonesia, Suku Sunda adalah suku terbesar kedua, Suku terbesar ketiga adalah suku Madura, Suku bangsa terbesar keempat adalah suku Minangkabau mereka merupakan dari propinsi Sumatera Barat.

Berikut adalah suku bangsa yang ada di Indonesia.

1.    Abai – Kalimantan Timur
2.    Abung – Sumatra
3.    Aceh – DI Aceh
4.    Adang – Kalimantan
5.    Adonara – NTB/NTT
6.    Akit – Sumatra
7.    Alas – DI Aceh
8.    Alifuru – Maluku
9.    Alor Solor – NTB/NTT
10.    Ambon – Maluku
11.    Ampana – Sulawesi
12.    Anak Dalam – Riau
13.    Anabas – Sumatra
14.    Aneuk Jame – Sumatra
15.    Anggi – Papua
16.    Angkola – Sumatra
17.    Aput – Kalimantan
18.    Arab – DKI Jakarta
19.    Arguni – Papua
20.    Aru – Maluku
21.    Asmat – Papua
22.    Atoni – NTB/NTT
23.    Awiu – Papua
24.    Ayou – Kalimantan
25.    Bacan – Maluku
26.    Bada – Sulawesi
27.    Badar – Maluku
28.    Bahau – Kalimantan
29.    Bajau – Jambi
30.    Bajo – Sulawesi
31.    Baku – Sulawesi
32.    Balantak – Sulawesi
33.    Balatan – Sulawesi Tengah
34.    Bali – Bali
35.    Bali Aga – NTB/NTT
36.    Banda – Maluku
37.    Banggai – Sulawesi Tengah
38.    Bangka – Sumatra
39.    Banjar – Kalimantan Selatan
40.    Banjar Hulu – Kalimantan Selatan
41.    Banjar Kuala – Kalimantan Selatan
42.    Banten – Jawa Barat
43.    Bantenan – Sulawesi
44.    Bantik – Sulawesi Utara
45.    Banyak – Sumatra
46.    Basap – Kalimantan
47.    Batak – Sumatra
48.    Batang Lupar – Kalimantan
49.    Batanta – Papua
50.    Batin – Jambi
51.    Batu – Sumatra
52.    Batu Blah – Kalimantan
53.    Bawean – Jawa
54.    Bela – Sumatra
55.    Belang – Sulawesi
56.    Belu – NTB/NTT
57.    Bengkulu – Bengkulu
58.    Benua – Sumatra
59.    Berusu – Kalimantan Timur
60.    Besoa – Sulawesi
61.    Betawi – DKI Jakarta/Jawa Barat
62.    Biaju – Kalimantan
63.    Biak – Papua
64.    Biasaya – Kalimantan
65.    Biliton – Sumatra
66.    Bima – NTB
67.    Bituni – Papua
68.    Bobongko – Sulawesi
69.    Bodha – NTB/NTT
70.    Boh – Kalimantan
71.    Bolaang Mongondow – Sulawesi Selatan
72.    Bonfia – Maluku
73.    Bonai – Riau
74.    Bugis – Sulawesi Selatan
75.    Bukar, Dayak – Kalimantan
76.    Bukar, Punan – Kalimantan
77.    Bukit – Kalimantan
78.    Bukitan – Kalimantan
79.    Bukupai – Kalimantan Barat
80.    Buli – Maluku
81.    Bulungan – KalimantanTimur
82.    Bungku – Sulawesi
83.    Buol – Sulawesi
84.    Buru -Maluku
85.    Busang – Kalimantan
86.    Buton – Sulawesi Tenggara
87.    Buyu – Sulawesi
88.    Caniago – Sumatra Barat
89.    Cina – Jawa / Kalimantan / DKI Jakarta / Sumatra
90.    Damar – Maluku/NTB/NTT
91.    Dani – Papua
92.    Darat – Sumatra
93.    Dawan – NTT
94.    Dayak – Kalimantan Barat / Kalimantan Tengah
95.    Demta – Papua
96.    Desa – Kalimantan
97.    Dodongko – NTB/NTT
98.    Dompo – NTB/NTT
99.    Dusun – Kalimantan Barat
100.    Ende – NTB/NTT
101.    Enggano – Bengkulu
102.    Flores – NTT
103.    Furuaru – Maluku
104.    Galela – Maluku
105.    Gene – Maluku
106.    Gayo – DI Aceh
107.    Genyem – Papua
108.    Gimpu – Sulawesi
109.    Goram – Maluku
110.    Gorontalo – Sulawesi Utara
111.    Guai – Papua
112.    Guci – Sumatra Barat
113.    Halmahera -Maluku
114.    Hattam – Papua
115.    Helong – NTT
116.    Hutan – Riau
117.    Iban – Kalimantan
118.    Iha – Papua
119.    Jakui – Papua
120.    Jambak – Sumatra Barat
121.    Jambi – Jambi
122.    Jawa – DI Yogyakarta /Jawa Timur/Jawa Teangah/Bali/Sumatra
123.    Juru – Sumatra
124.    Kabaena – Sulawesi
125.    Kadayan – Kalimantan
126.    Kahayan – Kalimantan
127.    Kadipan – Sulawesi
128.    Kaili – Sulawesi Tengah
129.    Kalabit – Kalimantan
130.    Kangean – JawaTengah
131.    Kanowit – Kalimantan
132.    Kapauku – Papua
133.    Karimun – JawaTengah
134.    Karo – Sumatra Utara
135.    Katingan – Kalimantan
136.    Kayan – Kalimantan Timur
137.    Kayoa – Maluku
138.    Kei – Maluku
139.    Kelai – Kalimantan
140.    Kenya – Kalimantan Timur
141.    Kerinci – Jambi
142.    Kiman – Papua
143.    Kinadu – Sulawesi
144.    Kinjing – Kalimantan
145.    Kisan – Sumatra Selatan
146.    Kisar – Sumatra Selatan
147.    Klamantan – Kalimantan
148.    Kluet – DI Aceh
149.    Kodombuku – Sulawesi
150.    Komering – Sumatra Selatan
151.    KotaWaringin – Kalimantan
152.    Koto – Sumetra Barat
153.    Kubu -Jambi /Sumatra Selatan
154.    Kulawi – Sulawesi Tengah
155.    Kulisusu – Sulawesi Tenggara
156.    Kupang – NTB/NTT
157.    Lage – Sulawesi
158.    Lajolo – Sulawesi
159.    Laki – Sulawesi Tenggara
160.    Lalaeo – Sulawesi
161.    Lambatu – Sulawesi
162.    Lampu – Sulawesi
163.    Lampung – Lampung
164.    Land Dayak – Kalimantan
165.    Larantuka
166.    Laras Fordata – Maluku
167.    Laut – Riau
168.    Lawangan – Kalimantan Barat
169.    Lebong – Bengkulu
170.    Leboni – Sulawesi
171.    Lematang – Sumatra Selatan
172.    Leti – NTB/NTT/Maluku
173.    Lindu – Sulawesi
174.    Lingga – Sumatra
175.    Lio – NTB/NTT
176.    Lisum – Kalimantan
177.    Loda – Maluku
178.    Loinang – Sulawesi
179.    Lom – Sumatra
180.    Lombleng – NTB/NTT
181.    Lombok – NTB
182.    Long Giat – Kalimantan
183.    Long Kiput – Kalimantan
184.    Long Wai – Kalimantan
185.    Lundu – Kalimantan
186.    Lugat – Kalimantan
187.    Lubu – Sumatra
188.    Maayan – Kalimantan Barat
189.    Maba – Maluku
190.    Madura – Jawa Timur/Bali
191.    Mairasi – Papua
192.    Makasar – Sulawesi Selatan
193.    Makian – Maluku
194.    Mamak – Sumatra
195.    Mamasa – Sulawesi
196.    Memberamo – Papua
197.    Membaro – NTB/NTT
198.    Mamuju – Sulawesi
199.    Manado – Sulawesi Utara
200.    Mandailing – Sumatra Utara
201.    Mandar – Sulawesi Selatan
202.    Manggarai – NTB/NTT
203.    Mangki – Sulawesi
204.    Manikion – Papua
205.    Manyukei – Kalimantan
206.    Mapia – Papua
207.    Mapute – Sulawesi
208.    Marea – NTB/NTT
209.    Marindanim – Papua
210.    Maronene – Sulawesi
211.    Masenrempulu – Sulawesi
212.    Matano – Sulawesi
213.    Mbaluh – Kalimantan
214.    Medan – Sumatra
215.    Meibrat – Papua
216.    Melanau – Kalimantan
217.    Melayu – Kalimantan/Sumatra Utara/Riau/Jambi/Bengkulu/Lampung
218.    Mengkongga – Sulawesi
219.    Mimika – Papua
220.    Minahasa – Sulawesi Utara
221.    Minangkabau – Sumatra Barat
222.    Misol – Papua
223.    Moa – Maluku
224.    Moni – Papua
225.    Morotai – Maluku
226.    Mualang – Kalimantan
227.    Muna – Sulawesi Tenggara
228.    Murik – Kalimantan
229.    Murung – Kalimantan
230.    Murut – Kalimantan Tengah
231.    Musihulu – sumatra
232.    Muyu – Papua
233.    Mori – Sulawesi Tengah
234.    Moronene – Sulawesi Tengah
235.    Bage Keo – NTB/NTT
236.    Nafuna – Sumatra
237.    Ngada – NTB/NTT
238.    Ngayu – Kalimantan Barat
239.    Nias – Sumatra Utara
240.    NilaTeun Serui – Maluku
241.    Numfor – Papua
242.    Obi – Maluku
243.    Orang Depok – DKI Jakarta
244.    Orang Laut – Sumatra
245.    Orang Tugu – DKI Jakarta
246.    Osing – Jawa Timur
247.    Ot Danum Ngayu – Kalimantan Barat
248.    Ot Danum Punan – Kalimantan Tengah
249.    Pakambia – Sulawesi
250.    Pakawa – Sulawesi
251.    Pakpak – Sumatra
252.    Palembang – Sumatra Selatan
253.    Palu – Sulawesi Tengah
254.    Pamona – Sulawesi Tengah
255.    Pantai Timur – Papua
256.    Pantar – NTB/NTT
257.    Panyalai – Sumatra Barat
258.    Parigi – Sulawesi
259.    Patai – Kalimantan
260.    Patani – Maluku
261.    Patasiwa Putih – Maluku
262.    Patasiwa Hitam – Maluku
263.    Pebato – Sulawesi
264.    Penghulu – Jambi
265.    Penyabong – Kalimantan
266.    Piliang – Sumatra Barat
267.    Pipikoro – Sulawesi
268.    Pisang – Sumatra Barat
269.    Pitu Ulama – Sulawesi
270.    Prihing – Kalimantan
271.    Ponosokan – Sulawesi
272.    Pontianak – Kalimantan
273.    Poso – Sulawesi
274.    Pulo – Sumatra
275.    Punan – kalimantan Tengah /Kalimantan Barat
276.    Pu’u Mboto – Sulawesi
277.    Rampi – Sulawesi
278.    Ranau – Sumatra Selatan
279.    Rato – Sulawesi
280.    Rawas – Sumatra Selatan/Lampung
281.    Rejang – Bengkulu/Sumatra Selatan
282.    Riau – Sumatra
283.    Riung – NTB/NTT
284.    Roma Dama – Maluku
285.    Rongkong – Sulawesi
286.    Rote – Nusa Tenggara Timur
287.    Ruma – NTB/NTT
288.    Saban – Kalimantan
289.    Sabu – Nusa Tenggara Timur
290.    Sadang – Sulawesi
291.    Sadong Dayak – Kalimantan
292.    Sakai – Riau
293.    Salawati – Papua
294.    Saluan – Sulawesi
295.    Salu Maogge – Sulawesi
296.    Samarinda – Kalimantan
297.    Samin – Jawa Tengah
298.    Sangau – NTB/NTT
299.    Sangir – Sulawesi Utara
300.    Sapudi – Jawa
301.    Saputan – Kalimantan
302.    Sami – Papua
303.    Saruyan – Kalimantan
304.    Sasak – NusaTenggara Barat
305.    Schouten – Papua
306.    Sebop – Kalimantan
307.    Segal – Kalimantan
308.    Sekadau – kalimantan
309.    Sekah – Sumatra
310.    Seko – Sulawesi
311.    Selaru – Maluku
312.    Selayar – Sulawesi
313.    Samendo – Lampung
314.    Senggi – Papua
315.    Sentani – Papua
316.    Seram – Maluku
317.    Sermana – Maluku
318.    Serua – Maluku
319.    Serut – Papua
320.    Seti – Maluku
321.    Seumeulu – Sumatra
322.    Siang – Kalimantan
323.    Sichole – Sumatra
324.    Sidin – Kalimantan
325.    Sigi – Sulawesi
326.    Sikka – NTB/NTT
327.    Sikumbang – Sumatra Barat
328.    Simalungun – Sumatra Utara
329.    Simalur – Sumatra
330.    Simelu – DI Aceh
331.    Singkil – DI Aceh
332.    Siong – Kalimantan
333.    Sokah – Bengkulu
334.    Solor – NTB/NTT
335.    Sula – Maluku
336.    Sumba – NusaTenggara Timur
337.    Sumbawa – Nusa Tenggara Barat
338.    Sunda – Jawa Timur
339.    Tabuyan – Kalimantan
340.    Tagal – Kalimantan
341.    Talaud – Sulawesi
342.    Tali Abu – Maluku
343.    Talang – Riau
344.    Tampus – Jawa
345.    Tanibar – Maluku
346.    Taman – Kalimantan
347.    Tabe’e – Sulawesi
348.    Tambelan – Sumatra
349.    Tambak – Sumatra Barat
350.    Tamiang – Di Aceh
351.    Tangalan – Kalimantan
352.    Tanjung – Sumatra Barat
353.    Tapung – Sumatra
354.    Tamonan – Kalimantan
355.    Tarakan – Kalimantan
356.    Tawaelia – Sulawesi
357.    Teluk Jayapura – Papua
358.    Tengger – Jawa Timur
359.    Ternate -Maluku
360.    Teun – Maluku
361.    Tidung – Kalimantan Timur
362.    Timur – Sumatra
363.    Toala – Sulawesi
364.    Toba – Sumatra Utara
365.    To Balantik – Sulawesi
366.    To Belo – Maluku
367.    To Ganti – Sulawesi
368.    To Gian – Sulawesi
369.    Togitil – Maluku
370.    Tojo – Sulawesi
371.    To Laiwa – Sulawesi
372.    To Landawe – Sulawesi
373.    Toli – Toli – Sulawesi
374.    To Loinang – Sulawesi
375.    Tolour – Sulawesi
376.    Tombolu – Sulawesi
377.    To Mini – Sulawesi
378.    To Mori – Sulawesi
379.    Tompakawe – Sulawesi
380.    Tondano – Sulawesi
381.    Tonsawang – Sulawesi
382.    Tonsea – Sulawesi
383.    Tonsina – Sulawesi
384.    Toraja – Sulawesi Selatan
385.    Totemboan – Sulawesi
386.    Treng – Kalimantan
387.    Tring – Kalimantan
388.    Uhundun – Papua
389.    Ukit – Kalimantan

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

ciri khas yang dimiliki bangsa indonesia

Budaya gotong royong merupakan ciri khas Bangsa Indonesia sangat mengemuka dan harus terus dipertahankan. Demikian dikatakan Danrem 172/Praja Wirayakti Kolonel Kav Burhanuddin Siagian pada acara penyerahan kunci pembangunan rumah semi permanen hasil Karya Bhakti TNI di Balai Desa Kampung Mosso Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Jumat (22/2).

Budaya gotong royong yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia sangat mengemuka, dimana ciri utamanya adalah kepedulian sosial untuk membantu dan meringankan beban saudara kita�. ujar Burhanuddin Siagian.

Untuk itu, Budaya bangsa ini harus tetap dipertahankan, karena aspek kepedulian sosial sangat efektif dalam melestarikan hubungan kekerabatan maupun persatuan dan kesatuan bangsa.
Ditambahkannya, Selain pembangunan fisik akan juga meningkatkan kesejahteraan yang pada gilirannya juga akan semakin memantapkan kemanunggalan TNI-Rakyat, dan memperkokoh pilar kekuatan bangsa, demi tetap tegaknya kedaulatan dan keutuhan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

kumpulan bahasa-bahasa di indonesia

Bahasa Aceh Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Alas Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Alor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Ambelan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Angkola Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Aru Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Bacan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
Bahasa Bada’ Besona Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
Bahasa Bahau Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Bajau Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Balantak Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
Bahasa Bali Digunakan di Wilayah Bali
Bahasa Banda Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Banggai Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
Bahasa Banjar Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Bantik Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Batak Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Belu Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Bobongko Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
Bahasa Bonerate Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
Bahasa Bugis Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Bulanga Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gorontalo
Bahasa Bungkumori Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
Bahasa Buol Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
Bahasa Buru Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Butung Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
Bahasa Enggano Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Gayo Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Geloli Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Goram Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Gorontalo Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
Bahasa Helo Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Iban Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Jawa Digunakan di Wilayah Jawa
Bahasa Kadang Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Kai Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Kaidipan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
Bahasa Kail Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
Bahasa Kaisar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Kalaotoa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
Bahasa Karo Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Karompa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
Bahasa Kayan Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Kenya Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Klemautan Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Kroe Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Kubu Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Lain Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Laki Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
Bahasa Lampung Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Landawe Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
Bahasa Layolo Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
Bahasa Leboni Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
Bahasa Leti Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Loinan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
Bahasa Lom Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Luwu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Madura Digunakan di Wilayah Jawa
Bahasa Makassar Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Mandailing Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Mandar Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Mapute Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
Bahasa Melayu Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Melayu Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Mentawai Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Milano Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Minangkabau Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Mongondow Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Napu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
Bahasa Nias Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Orang Laut Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Ot-Danum Digunakan di Wilayah Kalimantan
Bahasa Pak-Pak Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Pantar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Pilpikoro Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
Bahasa Pitu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Rejang Lebong Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Riau Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Roma Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Rote Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Sa’dan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Salu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Sangir Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Bali
Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Barat
Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
Bahasa Seko Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Sikule Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Simulur Digunakan di Wilayah Sumatera
Bahasa Solor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Sula Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
Bahasa Sumba Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Barat
Bahasa Sumbawa Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
Bahasa Sunda Digunakan di Wilayah Jawa
Bahasa Talaud Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Taliabo Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
Bahasa Tambulu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Tanibar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Ternate Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara
Bahasa Tetun Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
Bahasa Tetun Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Tidore Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara
Bahasa Timor Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
Bahasa Timor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Tombatu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Tomini Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Tomoni
Bahasa Tompakewa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Tondano Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Tontembun Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
Bahasa Toraja Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
Bahasa Uluna Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
Bahasa Walio Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
Bahasa Wetar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
Bahasa Windesi Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Selatan
Bahasa Wotu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Asal mula reog ponorogo

Asal Mula Reog Ponorogo – Jawa Timur

Dahulu kala ada seorang puteri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Ia puteri seorang raja yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lemah lembut banyak para pangeran dan raja-raja yang ingin meminangnya untuk dijadikan sebagai istri.

Namun sayang Dewi Sanggalangit nampaknya belum berhasrat untuk berumah tangga. Sehingga membuat pusing kedua orang tuanya. Padahal kedua orang tuanya sudah sangat mendambakan hadirnya seorang cucu. “Anakku, sampai kapan kau akan menolak setiap pangeran yang datang melamarmu?” tanya Raja pada suatu hari.

“Ayahanda… sebenarnya hamba belum berhasrat untuk bersuami. Namun jika ayahanda sangat mengharapkan, baiklah. Namun hamba minta syarat, calon suami hamba harus bisa memenuhi keinginan hamba.”

“Lalu apa keinginanmu itu?”

“Hamba belum tahu…”

“Lho? Kok aneh…?” sahut Baginda.

“Hamba akan bersemedi minta petunjuk Dewa. Setelah itu hamba akan menghadap ayahanda untuk menyampaikan keinginan hamba.”

Demikianlah, tiga hari tiga malam Dewi Sanggalangit bersemedi. Pada hari keempat ia menghadap ayahandanya.

“Ayahanda, calon suami hamba harus mampu menghadirkan suatu tontonan yang menarik. Tontonan atau keramaian yang belum ada sebelumnya. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor. Nantinya akan dijadikan iringan pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.”

“Wah berat sekali syaratmu itu!” sahut Baginda.

Meski berat syaratnya itu tetap diumumkan kepada segenap khalayak ramai. Siapa saja boleh mengikuti sayembara itu. Tidak peduli para pangeran, putera bangsawan atau rakyat jelata.

Para pelamar yang tadinya menggebu-gebu untuk memperistri Dewi Sanggalangit jadi ciut nyalinya. Banyak dari mereka yang mengundurkan diri karena merasa tak sanggup memenuhi permintaan sang Dewi.

Akhirnya tinggal dua orang yang menyatakan sanggup memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. Mereka adalah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelanaswandana dari Kerajaan Bandarangin.

Baginda Raja sangat terkejut mendengar kesanggupan kedua raja itu. Sebab Raja Singabarong adalah manusia yang aneh. Ia seorang manusia yang berkepala harimau. Wataknya buas dan kejam. Sedang Kelanaswandana adalah seorang raja yang berwajah tampan dan gagah, namun punya kebiasaan aneh, suka pada anak laki-laki. Anak laki-laki itu dianggapnya sebagai gadis-gadis cantik.

Namun semua sudah terlanjur, Dewi Sanggalangit tidak bisa menggagalkan persyaratan yang telah diumumkan.

Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya memerintah dengan bengis dan kejam. Semua kehendaknya harus dituruti. Siapa saja dari rakyatnya yang membangkang tentunya akan dibunuh. Raja Singabarong bertubuh tinggi besar. Dari bagian leher ke atas berwujud harimau yang mengerikan. Berbulu lebat dan penuh dengan kutu-kutu. Itulah sebabnya ia memelihara seekor burung merak yang rajin mematuki kutu-kutunya.

Ia sudah mempunyai selir yang jumlahnya banyak sekali. Namun belum mempunyai permaisuri. Menurutnya sampai detik ini belum ada wanita yang pantas menjadi permaisurinya, kecuali Dewi Sanggalangit dari Kediri. Karena itu ia sangat berharap dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh Dewi Sanggalangit.

Raja Singabarong telah memerintahkan kepada para abdinya untuk mencarikan kuda-kuda kembar. Mengerahkan para seniman dan seniwatinya menciptakan tontonan yang menarik, dan mendapatkan seekor binatang berkepala dua. Namun pekerjaan itu ternyata tidak mudah. Kuda kembar sudah dapat dikumpulkan, namun tontonan dengan kreasi baru belum tercipta, demikian pula binatang berkepala dua belum didapatkannya.

Maka pada suatu hari ia memanggil patihnya yang bernama Iderkala.

“Hai Patih coba kamu selidiki sampai bagaimana si Kelanaswandana mempersiapkan permintaan Dewi Sanggalangit. Kita jangan sampai kalah cepat oleh Kelanaswandana.”

Patih Iderkala dengan beberapa prajurit pilihan segera berangkat menuju kerajaan Bandarangin dengan menyamar sebagai seorang pedagang. Mereka menyelidiki berbagai upaya yang dilakukan oleh Raja Kelanaswandana. Setelah melakukan penyelidikan dengan seksama selama lima hari mereka kembali ke Lodaya.

“Ampun Baginda. Kiranya si Kelanaswandana hampir berhasil mewujudkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hamba lihat lebih dari seratus ekor kuda kembar telah dikumpulkan. Mereka juga telah menyiapkan tontonan yang menarik, yang sangat menakjubkan.” Patih Iderkala melaporkan.

“Wah celaka! Kalau begitu sebentar lagi dia dapat merebut Dewi Sanggalangit sebagai istrinya.” kata Raja Singabarong. “Lalu bagaimana dengan binatang berkepala dua, apa juga sudah mereka siapkan?”

“Hanya binatang itulah yang belum mereka siapkan. Tapi nampaknya sebentar lagi mereka dapat menemukannya.” sambung Patih Iderkala.

Raja Singabarong menjadi gusar sekali. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan berkata keras.

“Patih Iderkala! Mulai hari ini siapkan prajurit pilihan dengan senjata yang lengkap. Setiap saat mereka harus siap diperintah menyerbu ke Bandarangin.”

Demikianlah, Raja Singabarong bermaksud merebut hasil usaha keras Raja Kelanaswandana. Setelah mengadakan persiapan yang matang, Raja Singabarong memerintahkan prajurit mata-mata untuk menyelidiki perjalanan yang akan ditempuh Raja Kelanaswandana dari Wengker menuju Kediri. Rencananya Raja Singabarong akan menyerbu mereka di perjalanan dan merampas hasil usaha Raja Kelanaswandana untuk diserahkan sendiri kepada Dewi Sanggalangit.

Raja Kelanaswandana yang memerintah kerajaan Wengker berwajah tampan dan bertubuh gagah. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana. Namun ada wataknya yang tidak baik, ia suka mencumbui anak laki-laki. Ia menganggap anak laki-laki yang berwajah tampan dan bertubuh molek itu seperti gadis-gadis remaja. Hal ini sangat mencemaskan pejabat kerajaan dan para pendeta. Menimbulkan kesedihan bagi para rakyat yang harus kehilangan anak laki-lakinya sebagai pemuas nafsu Raja.

Patih Pujanggeleng dan pendeta istana sudah berusaha menasehati Raja agar meninggalkan kebiasaan buruknya itu namun saran mereka tiada gunanya. Raja tetap saja mengumpulkan puluhan anak laki-laki yang berwajah tampan.

Pada suatu hari Raja Kelanaswandana memanggil semua pejabat kerajaan dan para pendeta. Ia berkata bahwa ia akan menghentikan kebiasaannya jika dapat memperistri Dewi Sanggalangit dari Kediri. Sebab semalam ia mimpi bertemu dengan gadis cantik jelita itu dalam tidur. Menurut para Dewa gadis itulah yang akan menghentikan kebiasaan buruknya mencumbui anak laki-laki.

Seluruh pejabat dan pendeta menyetujui kehendak Raja yang ingin memperistri Dewi Sanggalangit. Maka ketika mereka mendengar persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalagit, mereka tiada gentar, seluruh kawula kerajaan, baik para pejabat, seniman, rakyat biasa rela bekerja keras guna memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit.

Karena mendapat dukungan seluruh rakyatnya maka dalam tempo yang tidak begitu lama Raja Kelanaswandana dapat menyiapkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hanya binatang berkepala dua yang belum didapatnya. Patih Pujanggeleng yang bekerja mati-matian mencarikan binatang itu akhirnya angkat tangan, menyatakan ketidaksanggupannya kepada Raja.

“Tidak mengapa!” kata Raja Kelanaswandana. ”Soal binatang berkepala dua itu aku sendiri yang akan mencarinya. Sekarang tingkatkan kewaspadaan, aku mencium gelagat kurang baik dari kerajaan tetangga.”

“Maksud Baginda?” tanya Patih Pujanggeleng penasaran.

“Coba kau menyamar jadi rakyat biasa, berbaurlah dengan penduduk di pasar dan keramaian lainnya.”

Perintah itu dijalankan, maka Patih Pujanggeleng mengerti maksud Raja. Ternyata ada penyusup dari kerajaan Lodaya. Mereka adalah para prajurit pilihan yang menyamar sebagai pedagang keliling. Patih Pujanggeleng yang juga mengadakan penyamaran serupa akhirnya dapat mengorek keterangan secara halus apa maksud prajurit Lodoya itu datang ke Bandarangin.

Prajurit Lodaya merasa girang setelah mendapatkan keterangan yang diperlukan. Ia bermaksud kembali ke Lodoya. Namun sebelum melewati perbatasan, anak buah Patih Pujanggeleng sudah mengepungnya, karena prajurit itu melawan maka terpaksa para prajurit Bandarangin membunuhnya.

Patih Pujanggeleng menghadap Raja Kelanaswandana.

“Apa yang kau dapatkan?” tanya Raja Kelanaswandana.

“Ada penyusup dari kerajaan Lodaya yang ingin mengorek keterangan tentang usaha Baginda memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Singabarong hendak merampas usaha Baginda dalam perjalanan menuju Kediri.”

“Kurang ajar!“ sahut Raja Kelanaswandana. “Jadi Raja Singabarong akan menggunakan cara licik untuk memperoleh Dewi Sanggalangit. Kalau begitu kita hancurkan kerajaan Lodaya. Siapkan bala tentara kita.”

Sementara itu Raja Singabarong yang menunggu laporan dari prajurit mata-mata yang dikirim ke Bandarangin nampak gelisah. Ia segera memerintahkan Patih Iderkala menyusul ke perbatasan. Sementara dia sendiri segera pergi ke tamansari untuk menemui si burung merak, karena pada saat itu kepalanya terasa gatal sekali.

“Hai burung merak! Cepat patukilah kutu-kutu di kepalaku!” teriak Raja Singabarong dengan gemetaran menahan gatal.

Burung merak yang biasa melakukan tugasnya segera hinggap di bahu Raja Singabarong lalu mematuki kutu-kutu di kepala Raja Singabarong.

Patukan-patukan si burung merak terasa nikmat, asyik, bagaikan buaian sehingga Raja Singabarong terlena dan akhirnya tertidur. Ia sama sekali tak mengetahui keadaan di luar istana. Karena tak ada prajurit yang berani melapor kepadanya. Memang sudah diperintahkan kepada prajurit bahwa jika ia sedang berada di tamansari siapapun tidak boleh menemui dan mengganggunya, jika perintah itu dilanggar maka pelakunya akan dihukum mati.

Karena tertidur ia sama sekali tak mengetahui jika di luar istana pasukan Bandarangin sudah datang menyerbu dan mengalahkan prajurit Lodaya. Bahkan Patih Iderkala yang dikirim ke perbatasan telah binasa lebih dahulu karena berpapasan dengan pasukan Bandarangin.

Ketika peperangan itu sudah merembet ke dalam istana dekat tamansari barulah Raja Singabarong terbangun karena mendengan suara ribut-ribut. Sementara si burung mereka masih terus bertengger mematuki kutu-kutu dikepalanya, jika dilihat sepintas dari depan Raja Singabarong seperti binatang berkepala dua yaitu berkepala harimau dan burung merak.

“Hai mengapa kalian ribut-ribut?” teriak Raja Singabarong.

Tak ada jawaban, kecuali berkelebatnya bayangan seseorang yang tak lain adalah Raja Kelanaswandana. Raja Bandarangin itu tahu-tahu sudah berada di hadapan Raja Singabarong.

Raja Singabarong terkejut sekali. “Hai Raja Kelanaswandana mau apa kau datang kemari?”

“Jangan pura-pura bodoh!” sahut Raja Kelanaswandana. “Bukankah kau hendak merampas usahaku dalam memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit!”

“Hem, jadi kau sudah tahu!” sahut Raja Singabarong dengan penuh rasa malu.

“Ya, maka untuk itu aku datang menghukummu!” berkata demikian Raja Kelanaswandana mengeluarkan kesaktiannya. Diarahkan ke bagian kepala Raja Singabarong. Seketika kepala Singabarong berubah. Burung merak yang bertengger di bahunya tiba-tiba melekat jadi satu dengan kepalanya sehingga Raja Singabarong berkepala dua.

Raja Singabarong marah bukan kepalang, ia mencabut kerisnya dan meloncat menyerang Raja Kelanaswandana. Namun Raja Kelanaswandana segera mengayunkan cambuk saktinya bernama Samandiman. Cambuk itu dapat mengeluarkan hawa panas dan suaranya seperti halilintar.

“Jhedhaaar…!” begitu terkena cambuk Samandiman, tubuh Raja Singabarong terpental, menggelepar-gelepar di atas tanah. Seketika tubuhnya terasa lemah dan anehnya tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi binatang aneh, berkepala dua yaitu kepala harimau dan merak. Ia tidak dapat berbicara dan akalnya telah hilang. Raja Kelanaswandana segera memerintahkan prajurit Bandarangin untuk menangkap Singabarong dan membawanya ke negeri Bandarangin.

Beberapa hari kemudian Raja Kelanaswandana mengirim utusan yang memberitahukan Raja Kediri bahwa ia segera datang membawa persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Kediri langsung memanggil Dewi Sanggalangit.

“Anakku apa kau benar-benar bersedia menjadi istri Raja Kelanaswandana?”

“Ayahanda… apakah Raja Kelanaswandana sanggup memenuhi persyaratan hamba?”

“Tentu saja, dia akan datang dengan semua persyaratan yang kau ajukan. Masalahnya sekarang, tidakkah kau menyesal menjadi istri Raja Kelanaswandana?”

“Jika hal itu sudah jodoh hamba akan menerimanya. Siapa tahu kehadiran hamba disisinya akan merubah kebiasaan buruknya itu.” tutur Dewi Sanggalangit.

Demikianlah, pada hari yang ditentukan datanglah rombongan Raja Kelanaswandana dengan kesenian Reog sebagai pengiring. Raja Kelanaswandana datang dengan iringan seratus empat puluh empat ekor kuda kembar, dengan suara gamelan, gendang dan terompet aneh yang menimbulkan perpaduan suara aneh, merdu mendayu-dayu. Ditambah lagi dengan hadirnya seekor binatang berkepala dua yang menari-nari liar namun indah dan menarik hati. Semua orang yang menonton bersorak kegirangan, tanpa terasa mereka ikut menari-nari dan berjingkrak-jingkrak kegirangan mengikuti suara musik.

Demikianlah, pada akhirnya Dewi Sanggalangit menjadi permaisuri Raja Kelanaswandana dan diboyong ke Bandarangin di Wengker. Wengker adalah nama lain dari Ponorogo sehingga di kemudian hari kesenian Reog itu disebut  reog ponorogo

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

salah satu masakan nusantara

Serabi Solo, Legit dengan Tekstur Lembut
suarasurabaya.net| Serabi Solo memang beda dengan serabi pada umumnya. Serabi yang kita temui sehari-hari, menggunakan santan dalam penyajiannya sedangkan Serabi Solo, santan ditambahkan saat membuat serabi. Hasilnya, bisa dirasakan perbedaan tekstur dan rasa Serabi. Seperti yang disajikan Ny.TUMI SUYANI (60) maestro Serabi Solo di Lobby Longe Hyatt Regency Surabaya.

Pada suarasurabaya.net, Sabtu (07/01), Ny.TUMI membeberkan resepnya, bahwa untuk Serabi Solo ini tidak sulit membuat namun butuh kesabaran saat membuat adonan. “Kalau tidak sabar, adonan bisa cuer (encer sekali) atau sebaliknya terlalu kental. Selain itu, memasak sebaiknya dengan tungku arang untuk memberikan aroma yang berbeda. Untuk mendapatkan Serabi Solo yang enak saya belajar selama 15 tahun,”ujarnya.

Dengan menekuni membuat Serabi Solo ini, Ny.TUMI dikontrak oleh Hyatt grup baik Grand Hyatt Jakarta, Hyatt Regency Yogyakarta maupun Surabaya. Selama Januari ini, kepiawaian Ny.TUMI bisa dilihat secara langsung di lobi hotel sejak 5-28 Januari, pk.12.00-20.00 WIB.

Kelegitan dan variasi topping yang beraneka warna seperti coklat, keju, nangka, pisang dan masih banyak lagi menjadi daya tarik Serabi Ny.TUMI. Jajanan tradisional Indonesia ini tentunya sangat tepat dinikmati sore hari sebagai teman minum teh sambil bersantai bersama keluarga atau pun dapat dijadikan buah tangan untuk kolega maupun keluarga di rumah.

Bahan yang dibutuhkan :
1. 1 kg tepung beras
2. 1,5 kg gula pasri
3. 2 butir telur
4. setengah sendok teh permipan
5. 1 butir kelapa untuk santan
6. daun pandan secukupnya

Cara membuat :
1. Tepung beras dicampur gula, telur dan permipan. Semuanya di-uleni (diaduk dengan tangan) dan ditambahkan air secukupnya menjadi adonan yang tidak terlalu cair atau kental. Setelah itu dibiarkan 1 malam agar adonan mengembang.
2. Membuat santan kental kemudian direbus bersama daun pandan. Jangan sampai santan pecah. Setelah itu, dibiarkan 3 jam. Santan kental yang berada di permukaan santan rebusan dipisahkan dalam tempat berbeda. Sisa santan dicampurkan pada adonan tepung beras yang siap untuk dibuat serabi.
3. Untuk memasak serabi sebaiknya menggunakan tungku batu bara (arang) dengan wajan kecil dan tutup dari bahan tanah liat.
4. Adonan dimasukkan ke wajan dan ditutup. Setelah agak matang ditambahkan santan kental di atasnya, ditutup kembali.
5. Setelah beberapa saat jika ingin variasi, serabi bisa ditambahkan irisan nangka, pisang, taburan coklat maupun keju.
6. Serabi siap dihidangkan.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar